Skip to main content

Aku dan Agma ini

Aku dan Agama ini

Hehe..

Inilah waktu yang tepat untuk menulis dan mengisi kekosongan disaat merebakknya virus corona atau yang populer kita sebuat dengan nama Covid-19.

Back to Topic

Sebenarnya terlalu dini untuk menulis tentang perjalanan ini, tapi begitulah mau nulis soal Ekonomi, Politik, dll kayaknya belum tepat di situasi ini!

Atau memang mungkin ilmunya yg kurang...!


Dan lagi, pengennya nulis tentang ini di masa tua gitu, biar bisa dibaca anak muda, terus jadi inspirasi gitu. tapi ya sudahlah! anggap saja ini Part 1











Lahir dan besar di desa yang kecil bernama Mertak Tombok adalah bukan pilihan saya geng, Takdir Allah swt. Dan punya masyarakat yang sangat konservatif dan cinta banget sama agamanya juga bukan pilihan saya. 







Seperti orang pada umumnya, TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun. Dan sekarang tumbuh besar dan mencoba menggapai dunia dengan pikiran. 
Waktu SMP sempat bermasalah dengan nilai UN sehingga membatalkan niat masuk sekolah negeri favorit, akhirnya masuk pesantren. Sebenarnya tidak ada alasan untuk masuk pesantren kecuali dengan alasan sewaktu SD kelas 5 saya membuat tasbih dari buah apa namanya (pohonnya masih tumbuh dibelakang rumah sampai sekarang) lalu saya bagikan ke teman-teman SD sehingga kedapatanlah oleh guru agama lalu dengan spontan beliau mengatakan "Besar nanti kamu akan jadi Ustad".

Selama masa libur SMP setelah UN saya mulai mengenal Penceramah Ulung seperti Dzakir Naik, Ahmed Deedat, dan Yusuf Estes. Download dan pelajari adalah cara saya mengisi waktu libur kala itu. Sehingga saya putuskan masuk pesantren yang bisa membuat saya hafal Al-Qur'an dan bisa berbahasa Inggris tentunya, dan ketemu. 




Saya kira kesan pesantren akan seperti film di negeri 5 menara, ternyata tiap-tiap pesantren punya perbedaan masing-masing. Dalam pesantren ini saya melihat kecendrungan kekerasan dan pembiaran terhadap perbuatan zalim (mencuri) adalah hal yang biasa. Masuk ke pesantren yang tidak demokrtis sama sekali, karena ada kekuasaan otoriter antara yang sudah lama nyantri terhadap santri baru. Setelah 6 bulan saya putuskan berhenti dari pesantren tersebut, karena alasan kemanusiaan dan tidak cocok saja dengan kultur pesantren mereka.

Tapi perlu diakui bahwa pesantren inilah yang mengubah cara pandang dan kemampuan berargumentasi saya. Cara pandang global dan argumentasi yang terstruktur saya dapatkan dari pesantren ini.

Lalu saya pindah ke sekolah negeri yang selama hidup saya tidak pernah saya inginkan. Satu minggu pertama saya diminta sebagai perwakilan kelas untuk berceramah (alasannya karena di kelas itu saya pernah nyantri). Itu pertama kalinya saya berpidato di depan umum dengan bahasa indonesia. Karena sebelumnya dipesantren hanya pakai bahasa inggris. Pidato yang saya bawakan itu berjudul "Nabi Muhammad SAW dalam kitab Hindu". (sensasional dan kontroversial pidato). Sontak membuat seisi sekolah diam dan kaget (padahal saya hanya mengutip ceramah Dzakir Naik). Mulai saat itu sekolah mengenal saya dan guru agama sangat dekat dengan saya. Beberapa hari kemudian saya datang ke perpustakaan lalu ada kakak tingkat yang mencoba menguji pengetahuan saya soal agama dan negara. ( saya vs satu kelas kakak tingkat) dan apa yang terjadi, everybody silent, everybody listen and BOOM, saya menjadi media Darling.


Dari situ datanglah tawaran untuk bergabung dengan ekskul-ekskul yang paling besar di sekoalah. Pramuka dan Paskibra. Orang-orang ini menyebut diri mereka senior tapi setelah saya pelajari dan lihat, gaya organisasi ini terlalu totaliter, sehingga tidak membuat saya ingin bergabung.

Tak satupun ekskul yang saya ikuti sampai pada semester genap kelas 2 SMA, adik kelas saya (Paradila Utami) mengatakan" kenapa kakak tidak ikut ekskul remaja mushalla, kan lumayan ilmu bekas pesantren". Terpikir semalaman dan akhir berbagung. Beberapa minggu kemudian diangkat jadi ketua(hemm..saya memang cepat dalam urusan pansos).

Dari Remush (Remaja Mushalla) ini kemudian jalan menuju ustad, yang disampaikan oleh guru SD saya terbuka lebar, karena di setiap sekolah yang dikunjungi ketua diminta untuk berbicara mewakili sekolah. Dari Remush ini kemudian saya tumpahkan pikiran dan segala macam kemampuan saya agar orang dapat mendekatkan diri pada agama. Mulai dari sholat berjamaah Dzuhur yang menjadi pengganti nilai ujian pelajaran Agama Islam sampai membuat Remush ini melebihi Pramuka dan Paskibra yang sebelumnya menjadi Giant Ekskul di sekolah ini.

Sampai disini dulu ya, kita batasi sampai SMA.
oh ya,,masyarakat saya kental dengan NU dan di desa kecil ini ada 4 pesantren. Pernah nyantri di NW, dan banyak di ajar oleh orang-orang partai PKS, yang biasanya orang Muhammadiyah. Jadi cukup unik  rasa membicarakan agama ini.

Saya punya teman-teman terbaik dari SD sampai SMA yang tidak perlu saya sebut namanya tapi selalu saya doakan terkecuali 2 orang ini.

Riyan Pandega Pardi Utama dan Muhammad Muslihan Rizky
1. Pandega adalah orang yang seperti ayah kepada anaknya, sebelum tidur waktu di pesantren saya sering diceritakan kisah sahabat nabi dan alim ulama olehnya. Kecerdasannya sangat saya Kagumi, dan dia manusia yang saya idolakan tapi seusia/sebaya dengan saya. Beliau sekarang di Al-Azhar Mesir, semoga cepat selesai kuliahnya Tuan Guru


2. Rizky, dia kesayangan saya, saya pernah bilang kalok dia jadi calon Bupati Lombok Tengah saya siap jadi wakilnya atau pembantunya. Dari SMA di selalu menghabiskan waktunya dengan organisasi dan menghafal Qur'an. Sekarang kuliah di Unram, pernah mewakili Unram di Aceh dan sekarang konon kabarnya semakin terkenal di Unram karena hafalannya


Sampai SMA dulu, ini juga sudah terlalu panjang untuk sebuah blog. Nantikan selanjutnya yahh..

#StaySafe
#JanganLupa_Bahagia

Comments

Popular posts from this blog

#Beropini 3 Menjadi Islam, Indonesia, dan Manusia

Menjadi Islam, Indonesia, dan Manusia Hallo Genk! Kembali beropini lagi! Kali ini bakalan mengulik atau mencoba membahas soal bagaimana kita di Negara tercinta Indonesia ini bisa menjadi Islam, Indonesia, dan Manusia. Opini ini berangkat dari keresahan pribadi sejak 2019 memasuki pertengahan dan panas dengan soal-soal yang berbau politik, mengenai politik identitas, dan lain sebagainya. Sebenarnya politik identitas itu bukan hal baru dan diseluruh dunia bahkan berlaku. Terutama di abad pertengahan di Eropa kaum gereja sangat menguasai pada saat itu,dan sekarang diungkit-ungkit di Indonesia bahwa politik identitas adalah hal yang baru. Bagi saya politik identitas sah-sah saja, sebab memang orang memilih berdasarkan sikap masing-masing. Orang yang basicly hidup di lingkungan yang kental dengan agamanya cendrung memilih berdasarkan keyakinan pada agama, sementara orang yang hidup di lingkungan perkotaan yang heterogen cendrung memilih pada rasionalitas atau kesamaan visi...

#Beropini 5 Best of Prophet Muhammad SAW - 1 (Nabi bermain bertahan seperti Atletico Madrid hari ini)

Best of Prophet Muhammad SAW - 1 (Nabi bermain bertahan seperti Atletico Madrid hari ini) Ini sangat penting untuk ditulis, sebab dapat mengingatkan kita dan terlebih menyadarkan kita atas sikap orang Islam saat ini yang cendrung Offensive/menyerang dalam menyikapi suatu isu atau opini yang berada di Publik.  Tapi bukan orang islam sepenuhnya, tapi sebagian yang sangat menyerang ketika ada isu, terutama di sosial media.  Sebut saja kasus Toa masjid, orang yang bawa anjing ke masjid, kasus Ahok, dll.  (Tulisan ini bukan untuk membuat orang islam seperti lemah atau saya membela orang-orang yang saya sebut  dalam kasus, melainkan dengan niat ingin membuat kita berpikir ulang tentang cara kita berpikir dan bertindak dalam menyelesaikan masalah). Oke, itu sebagai pengantar saja, agar tidak ada kesalah pahaman diantara kita! Jika kita membaca sejarah awal Islam tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi, begitu banyak cobaan d...